Di Indonesia, krisis ekonomi ini juga sedikit banyak merubah posisi orang-orang kaya. Sebut saja Bakrie group yang sebelumnya pernah menjadi orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan $ 5,4 milyar, tahun ini turun drastis menjadi $ 850 juta. Hal ini terkait anjloknya saham Bumi Resource dan berbagai kejadian yang menimpa bisnisnya seperti kasus lumpur Lapindo yang masih belum terselesaikan sampai dengan saat ini. Berdasarkan laporan Forbes tahun 2009, komposisi orang kaya Indonesia berkurang menjadi tinggal 5 orang. Meskipun masih didominasi oleh pemain lama, tetapi komposisinya berubah. R. Budi Hartono dan adiknya Michael Hartono berada di posisi pertama orang terkaya di Indonesia (urutan 430 dunia). Disusul dengan Sukanto Tanoto (450 dunia), Martua Sitorus (522 dunia), dan Peter Sondakh (701 dunia). Berikut profil para milyuner Indonesia tahun 2009 adalah :
1. dan 2. Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono (urutan 430 dunia)
Kekayaan bersih : $ 1,7 milyar (masing-masing)
Group : Djarum
Bisnis : Industri rokok, bank, properti, elektronik, dsb.
Usia : 69 tahun
Tempat tinggal : Indonesia
Dua taipan bersaudara ini secara rutin masuk daftar orang-orang kaya dunia dan Indonesia. Tahun ini, krisis juga mempengaruhi bisnis mereka, akan tetapi mereka masih cukup kuat dan tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia tahun 2009 ini. Mereka berdua berhasil mengembangkan Djarum dari perusahan industri rokok, menjadi sebuah group yang merambah banyak sektor. Djarum dimulai oleh orang tua mereka Oei Wie Gwan tahun 1950 dari industri rokok rumahan. Setelah Oei Wie Gwan meninggal Hartono bersaudara ini mampu mengembangkan bisnis rokok kreteknya menjadi terbesar kedua setelah group Gudang Garam. Sekarang mereka merambah bidang lain dan sukses. Di bidang perbankan yang menyumbang banyak kekayaan, mereka memiliki saham mayoritas di BCA (47,5%), melalui Farindo Investment Ltd (Hartono bersaudara menguasai 92,18% Farindo). Setidaknya mereka sekarang memiliki 51 anak usaha. Project prestisiusnya terbaru adalah Grand Indonesia, sebuah komplek shopping mall, komplek hotel dan tempat tinggal.
3. Sukanto Tanoto (urutan 450 dunia)
Kekayaan bersih : $ 1,6 milyar.
Group : Rajawali Garuda Mas
Bisnis : Pulp dan kertas, CPO, sumber energi
Usia : 59 tahun
Tempat tinggal : Singapura
Sukanto Tanoto (Tan Kang Hoo) ini adalah juga langganan orang kaya versi Forbes. Urutannya sebagai orang terkaya di Indonesia bergeser terus naik turun. Tahun 2009 ini dia berada di urutan nomer 3 orang terkaya di Indonesia. Sukanto Tanoto masih tercatat sebagai WNI akan tetapi tinggal di Singapura, setelah terkait kasus BLBI. Taipan ini juga merasakan efek krisis dunia. Kekayaannya turun dari USD 4,7 milyar, 2 tahun yang lalu. Menjadi USD 2 milyar tahun 2008, dan sekarang tinggal $1,6 milyar. Bisnis utama di April Pulp and Paper, serta Asian Agri mengalami pukulan dengan turunnya harga komoditas dunia. Sukanto Tanoto adalah putra sulung dari tujuh bersaudara. Dia meninggalkan bangku sekolah pada usia 17 tahun untuk bekerja di perusahaan bapaknya.
4. Martua Sitorus (urutan 522 dunia)
Kekayaan bersih : $ 1,4 milyar.
Group : Wilmar Internasional
Bisnis : Agriculture
Usia : 49 tahun
Tempat tinggal : Singapura
Martua Sitorus beruntung tahun 2009 ini, kekayaannya naik dari $ 1,3 milyar, meskipun saham Wilmar turun tinggal setengahnya. Pendidikan dasarnya adalah ekonomi dan berjualan udang ketika masih kuliah. Belakangan dia mendirikan perusahaan agrobisnis Wilmar Internasional bersama dengan saudara keponakaannya, seorang konglomerat Malaysia, Robert Kuok. Dan kemudia di tahun 2007 dimerger dengan perusahaan Robert Kuok menjadikan Wilmar Internasional produsen minyak goreng terbesar di Asia. Martua Sitorus masih memegang 10% saham Wilmar Internasional.
5. Peter Sondakh (urutan 701 dunia)
Kekayaan bersih : $ 1 milyar.
Group : Rajawali
Bisnis : telekomunikasi, keperluan rumah tangga, transportasi, perhotelan
Usia : 57 tahun
Tempat tinggal : Indonesia
Pengusaha satu ini kekayaannya relatif tetap, tidak terlalu terpengaruh oleh krisis global. Bos Group Rajawali ini mengusai bisnis yang relatif tersebar. Groupnya menguasai Taxi Express, terbesar kedua di Indonesia. Dia memiliki juga bagian di Semen Gresik, dan menjual sahamnya di Excelcomindo lebih dari $ 400 juta tahun 2007. Groupnya juga bekerja sama dengan pemerintah Kamboja untuk mengembangkan armada pesawat terbang nasional. Memiliki St. Regis hotel di Bali dan rumah liburan di Beverly Hill.
Itulah profil para konglomerat Indonesia (meskipun 2 orang tinggal di Singapura ?!)
| < Prev | Next > |
|---|




